Setelah 40 hari penyerangan ke Ukrainia: Boetsja, Kramatorsk, Mariupol, Charkiv –rata dengan tanah. Semua yang terjadi adalah cacat yang tidak mungkin kami balut dengan apapun. Kami bakal dihujat anak-anak kami yang belum lahir. Tidur kami terus diputus mimpi tanpa nafas.
Di simpang sejarah
Ylena dan Genna, tidak mengerti ketika aku dengan berbusa-busa bicara tentang pembredelan dan kebebasan pers. Waktu itu pertengahan tahun 1995, kondisi kebebasan pers di Indonesia dalam titik nadir, dan aku datang ke Moskow dengan cetakan majalah klandestein, Suara Independen di tangan.
Kami sama-sama muda, Ylena –adalah anak seorang petinggi negara yang menguasai tiga bahasa. Sementara Genna baru saja lulus teknologi komputer. Kami kerja serabutan:, Ylena menjadi penerjemah dan, Genna menjadi supir kami, dan aku tengah berada dalam satu tim misi kebudayaan. Kami berdiri di simpang sejarah.
Kota Moskow masih terhenyak. Tirai besi yang digergaji mantan Presiden Michail Gorbachev, tampaknya belum sepenuhnya berhasil. Di sana-sini logam-logam itu masih menancap jadi penghalang jalan, sementara globalisasi masih belum jalan. Buku-buku yang sebelum glasnost dan perestroika dilarang, belum sempat dicetak ulang. Dan orang-orang Rusia belum sepenuhnya paham arti kebebasan berekspresi dan pers yang independen.
Para jurnalis berpuluh tahun lamanya adalah ujung tombak propaganda pemerintah, bertekuk lutut pada kemuliaan tahta di Kremlin. Semua pembiayaan press sepenuhnya di tangan politbiro, dan tak punya ide bagaimana membangun press yang bebas. Nyaris tak seorang pun punya pengalaman untuk itu.
Tak ada ruang buat ide abstrak
Jadilah tampaknya tekukan majalah Suara Independen yang aku selipkan di antara pembalut, menjadi makna yang mendahului zaman. Terlampau modern. Kendati Ylena menguasai bahasa Inggris dengan baik, dia tidak perduli di mana letak London atau Sydney, apalagi Indonesia atau Morse 13 –redaksi Suara Independen di Bandung. Sementara Genna memilih sibuk memikirkan mencari paku dan palu yang kami butuhkan untuk ruang pameran, daripada bergelut dengan ide-ide abstrak.
Pada tahun-tahun itu di Rusia, bahkan bahan makanan pun sulit diperoleh. Kegelisahan meruap di pelbagai sudut kota Moskow. Di Lapangan Pushkin, sebarisan orang dengan wajah bangga berbaris di depan kios Mac Donald pertama. Lambang modernitas, wajah Barat kapitalis yang baru dibuka 5 tahun sebelumnya.
“Hanya orang-orang tertentu yang punya uang dollar yang bisa menikmati burger,” celetuk Genna. Dia tampak bergairah ketika kami berada dalam barisan tersebut. “Ini burger pertama dalam hidupku,” katanya sambil melap saus tomat yang masih menggantung di sudut bibirnya, dan melipat tissue untuk disimpan buat anaknya.
Sementara seratus meter dari tempat itu, di tengah hamparan salju, aku melihat seorang ibu tua menggigil dengan dua ikat bawang merah di tangan. Sedari pagi, aku melihat dia sudah berdiri di sana. Menawarkannya pada orang yang lalu lalang untuk ditukar dengan barang kebutuhan rumah tangga yang lain. Sebagian besar orang pergi ke luar rumah dengan barang-barang yang ia miliki, dan berharap bisa ditukar dengan sesuatu yang ia butuhkan. Mata uang rubel sama sekali tidak berarti.
Kami dihujat
Tampaknya tirai besi tengah dilas kembali oleh Putin, begitu tulis Ylena, minggu yang lalu. Dia sudah bercucu dua. Setelah 40 hari penyerangan ke Ukrainia: Boetsja, Kramatorsk, Mariupol, Charkiv – rata dengan tanah.
Semua yang terjadi adalah cacat yang tidak mungkin kami balut dengan apapun. Dan kami dituduh dunia, melakukan pembiaran. Tidak melakukan apapun. Tidak bisa melakukan apapun, itu tepatnya, tegas Ylena. Ribuan orang ditangkap gara-gara melakukan protes. Lalu kami bakal dihujat anak-anak kami yang belum lahir.
Semua media yang bebas disensor, yang ada adalah media propaganda yang tak habis mengatakan bahwa Rusia tengah melakukan aksi militer menyelamatkan Ukraina dari kaum dajjal. Jauh di dalam hati, tulis Ylena, aku ingin membaca headline tajuk yang ditulis dengan huruf emas, Poetin diserang penyakit jantung, atau mengundurkan diri, atau …
Tapi sampai hari ini tidur kami terus diputus mimpi tanpa nafas.
* * *
Amsterdam, Paskah, 18 April 2022
