Pertemuan Meinuai sebulanan yang lalu membuahkan berkah penting. Yakni ditemukannya dua harta karun : itulah segepok Buletin GSSTF era tahun 2000 dan sebelumnya dan sehimpunan karya puisi dan cerpen sahabat kita yang telah mendahului kita, almarhum Taufik Junaidi Wibobo.
Lho ditemukan, memangnya pernah hilang? Apa pula hubungannya dengan gelaran Meinuai yang baru lalu? Buletin GS pernah lengkap tersimpan oleh Daus selama bertahun-tahun sejak diterbitkannya, lalu entah bagaimana mulai tercecer-cecer untuk lantas sirna. Adapun, reuni Meinuai berhasil menghadirkan rekan kita dari era 1986-an, yaitu Budi Hananto. Tentunya juga ribuan khalayak GSSTF lainnya yang juga berhasil hadir. Lalu ada apa dengan Budi?
Ringkas saja : Budi ternyata juga dengan rajin dan cermat, punya dan menyimpan tidak saja Buletin GS tapi juga itu tadi, karya-karya almarhum Bowo. Dengan suka hati Budi menghibahkannya untuk disimpan dalam kearsipan menuai.id. Kami sangat bersuka cita menerimanya.
Berikut di bawah ini adalah salah satu tampilan dari Buletin GS yang mewawancarai rekan kita Imam Dj Kamus.
————————————–

Kelelahan seorang Imam Dj. Kamus di dunia teater, agaknya yang mengawali karirnya di dunia musik. “Saya kekurangan energi untuk menjadi aktor makanya saya menjadi seorang pemusik,” ungkapnya. Walaupun pada tahun 1994-1995 ia pernah menyutradarai pementasan, itu semata-mata hanya karena rindu. Tetapi selanjutnya ia berusaha untuk realistis, memilih total di dunia musik ketimbang setengah-setengah di dalam dunia keaktoran.
Walau tidak merasa memiliki masalah dengan eksistensinya sebagai pemusik teater, yang diakuinya sendiri sebagai musik marjinal, toh ia berani bertanggung jawab dengan karya yang dibuatnya selama ini. “Penata musik harus ‘diintrogasi’ juga selain sutradara dan aktor, demi perkembangan dunia teater.
Ia berharap musik teater ini dapat berkembang dan menjadi bahan pembelajaran bagi siapapun, termasuk pula kaum marjinal seperti buruh dan petani. Karena itulah ia masih saja terus belajar, termasuk belajar musik tradisional Sunda yang merupakan obsesinya sekarang ini. Imam D’ Camus diharapkan membawa ‘sedikit’ angin segar dalam dunia musik teater.
Berikut wawancara Buletin Gelanggang Seni (GS) dengan Imam Dj. Kamus, sosok yang plontos dan bertampang dingin, di keremangan senja kota Bandung, Selasa, 3 Oktober 2000.
BGS: Bagaimana proses awal suatu pertunjukan?
Imam Dj. Kamus (IDK): Bagi aktor, musik dan hal-hal artistik lain adalah suatu keniscayaan. Itu merupakan hal yang mutlak karena bagaimana mungkin aktor mempersiapkan pemeranannya tanpa itu. Hal itu merupakan bahan baku atau bekal dalam pementasan, setidaknya aktor perlu tahu sebagai wawasan.
BGS: Bagaimana keadaan sekarang di dunia perteateran di Bandung?
IDK: Saya lihat mereka malas untuk belajar, soal wacana juga mereka banyak yang keteter.
BGS: Mengapa hal ini terjadi?
IDK: Mungkin karena iklimnya juga begitu. Dengan kemampuan menghapal yang cepat dan tubuhnya yang cukup bagus, mereka merasa cukup dengan begitu. Untuk belajar musik pun mereka punya keterbatasan, selain mahal, perlu perangkat musik dan buku-buku yang banyak.
BGS: Apakah ada kajian khusus tentang musik teater?
IDK: Secara khusus tidak ada, karena materi musik teater yang dipelajari merupakan musik yang biasa digunakan, bukan pembelajaran untuk menciptakan. Jadi semacam tradisi, padahal bagi saya musik teater itu tidak ada tradisi. Kalaupun bersangkut paut dengan tradisi, bersangkut paut juga dengan estetika, latar belakang budaya, kelahiran dan sejarah. Kecuali sekolah musik yang harus mempelajari musik secara utuh, baik secara teknik, aransemen, pengetahuan musik, komposisi, dan lain-lain.
BGS: Jadi orang yang memusiki teater itu seharusnya paham teater?
IDK: Setidaknya iya.
BGS: Lalu bagaimana jika seorang pemusik saja?
IDK: Tidak apa-apa. Sama halnya dengan aktor yang mempelajari musik, musik pun perlu mempelajari aktor, pemeranan, dan sastra juga.
BGS: Materi apa saja yang ada di musik teater?
IDK: Seperti yang saya bilang tadi, materi berupa bahan baku yang harus diolah oleh seorang pemusik dalam musik teater. Yah, seperti tempo, ketukan, komposisi, dan lain-lain.
BGS: Bagaimana jika pemain teater sekaligus juga pemain musik di sebuah pementasan, seperti pementasan “Theatre Talipot” yang diselenggarakan oleh CCF (IFI) Bandung, di Taman Budaya Jawa Barat, Juni lalu?
IDK: Mungkin kebutuhan atau juga para pemain teater itu seorang pemain musik juga.
BGS: Di Indonesia sendiri bagaimana?
IDK: Belum ada. Teater di Indonesia berawal dari naskah lalu memilih sutradaranya, pemainnya, jadi bukan berasal dari musik.
BGS: Perkembangan musik teater sendiri sejak kapan?
IDK: Sejak dulu pun musik teater sudah ada.
BGS: Apakah perkembangannya dapat disejajarkan dengan teater?
IDK: Dapat, bahkan lebih tua. Sebelum teknologi informasi berkembang, untuk mempublikasikan pertunjukan teater orang biasa menggunakan musik sebagai penarik perhatian masyarakat. Musik yang dipakai adalah musik untuk pertunjukan teater itu sendiri.
BGS: Dari sudut musik, teater mana yang kira-kira cukup bagus?
IDK: Yah, itulah, jarang grup teater yang memiliki grup musik sendiri, selalu pemusiknya dari luar. Teater Kecil sudah memiliki grup sendiri, Teater Koma juga sudah, sehingga bisa terjadi kolaborasi yang asyik.
BGS: Di luar negeri bagaimana?
IDK: Mereka memiliki grup sendiri atau ada sistem yang memungkinkan pemusik dan aktor bisa menyatu. Aktor punya naskah, pemusik punya partiture. Secara pastinya saya tidak tahu, tapi yang jelas mereka punya kerangka kerja yang proporsional.
BGS: GSSTF berarti punya potensi (dengan memiliki grup musik sendiri)?
IDK: Ya, sudah menuju ke sana. IKIP (UPI) juga demikian.
BGS: Bagaimana komentar publik tentang pementasan teater di mana Anda sebagai penata musik?
IDK: Mereka bilang cukup bagus, tapi itu relatif, kan.
BGS: Kalau pendapat Kang Imam sendiri bagaimana?
IDK: Ya, berpegang pada konsep saya, harus ada bahan bakunya juga, prosesnya juga, selama ini saya bekerja saja.
BGS: Apa selama ini kesulitan mencari bahan baku yang diperlukan?
IDK: Dalam empat bulan misalnya, garapan musik teater setidaknya dua bulan saya linglung mencari musiknya. Saya baca naskah, latar belakang dan sejarah pementasannya. Bahkan pernah tiga setengah bulan saya bingung, kebetulan saya sakit, kemudian tiba-tiba idenya muncul dan saya tidak tahu bahan bakunya dari mana.
BGS: Selain itu, masalah apa lagi yang ditemui dalam menggarap musik teater ini?
IDK: Pertama, kemampuan pemusik untuk memainkan apa yang saya buat. Kedua, stereotype pemusik sebagai pemusik biasa. Atau kadang seringkali aktor tidak sensitif terhadap musik. Hal ini dapat dilihat dari respon-respon aktor tersebut terhadap musik ketika latihan. Mereka biasanya bergelut dengan kata-kata atau bloking saja, makanya diperlukan penata musik untuk mengarahkannya.
BGS: Apakah dengan kurangnya sensitivitas ini berpengaruh besar?
IDK: Ya, bahkan pada perkembangan teaternya sendiri.
BGS: Lalu bagaimana jika dalam suatu pementasan ada sutradara dalam gerak dan juga sutradara dalam musik?
IDK: Maksudnya music director, ya? Ya, itu sutradara untuk musik.
BGS: Kalau di Indonesia disebut penata musik?
IDK: Iya, kalau kita mengadopsi teater modern, ya music director. Saya sadar di Bandung ini, sutradara itu superior.
BGS: Bukankah harus seperti itu?
IDK: Wadahnya seperti itu, tetapi bukan berarti ia melakukan segalanya. Tidak berarti ia harus menciptakan musik. Bertanyalah pada yang kompeten, yang professional dalam hal ini.
BGS: Sejauh ini penghargaan terhadap penata musik itu sendiri bagaimana?
IDK: Saya bilang tadi masalah eksistensial dan saya tidak punya masalah dalam hal itu. Tetapi kalau ada yang meyoroti tentang hal itu, saya akan mempertanggungjawabkannya.
BGS: Lalu bagaimana bagi yang lain?
IDK: Sebaiknya dipertanggungjawabkan. Penata musik harus ‘diintrogasi’ juga selain aktor dan sutradara demi perkembangan teater, dan juga karena music teater selama ini marjinal. Di Amerika yang sistemnya sangat kapitalistik, musik teater dapat didokumentasikan lalu digarap dengan baik kemudian dijual. Mungkin karena tradisi opera, dan itu tadi, sistem industri yang kapitalistik.
BGS: Kemudian apakah ada perempuan di Bandung ini yang terjun di bidang musik teater?
IDK: Jarang. Image masyarakat yang inferior pada kaum perempuan berpengaruh pada penata musik yang perempuan. Tiwi, menurut saya cukup potensial, tetapi sayang kurang berkembang, mungkin karena ia lebih bermain di sektor lain padahal lahannya cukup besar. Bagi saya perempuan atau laki-laki sama saja, tidak ada superior atau inferior, yang ada hanya kemampuan.
BGS: Barometer apa yang menunjukkan kesuksesan musik teater ini?
IDK: Tidak ada, dan semoga tidak ada. Saya sendiri berusaha kompromi untuk membuat vokal dan melodi yang sesuai dengan materi yang saya buat.
BGS: Bagaimana jika terjadi suatu keterbalikan, penonton datang menonton pertunjukan teater karena penata musiknya?
IDK: Mungkin karena pertimbangan pasar, sehingga tidak marjinal lagi. Misalnya saja dengan mengundang Andi rif/ untuk berkolaborasi dengan pertunjukan teater. Secara konsep mungkin saja, tetapi secara budget sepertinya tidak. Dan mungkin nanti akan terjadi perang konsentrasi, mana yang paling bagus antara musik dan teater.
BGS: Kemudian harapan Kang Imam secara global?
IDK: Musik teater ini dapat berkembang dan menjadi pembelajaran bagi siapapun.
BGS: Ada keinginan untuk membagi pengalaman Kang Imam sebagai bahan pembelajaran bagi yang lain?
IDK: Tentu saja. Sekarang ini saya mencoba untuk transformasi gagasan, tentang musik tentu saja, baik musik teater ataupun yang lain. Tetapi baru pada tahap saling e-mail saja, dan justru yang banyak tertarik itu dari pemusik-pemusik kaum marjinal, misalnya kaum buruh dan petani. Dan sepertinya mereka akan berkumpul, mungkin di Bandung, untuk membahas seni-seni pertunjukan yang dikelola petani dan buruh, targetnya adalah ekspresi melalui seni pertunjukan. Dan orang akan melihat seni yang tidak muncul ini, padahal mereka potensial. Tidak muncul karena mungkin dilarang atau juga kesulitan dalam menggalang publik.
* * *
(Dimuat dalam Buletin GS edisi XX\tahun i\Oktober 2000)
