Saya mengandaikan sebuah ruang keluarga ketika ajakan pertemuan datang. Ingatan kembali ke ruangan yang 35 tahun silam saya memasukinya.
Ukurannya 4 x 4 Meter dengan karpet bermotif kecoklatan yang sudah kusam. Tanpa tempat duduk. Yang masuk: harus melepas sepatu dan lesehan.
Dindingnya warna broken white agak gading. Tanpa hiasan. Hanya ada topeng kayu yang dicantelkan pada paku di tengah dindingnya.
Begitu sanggar GSSTF – Gelanggang Seni Sastra, Teater, dan Film, salah satu unit kegiatan mahasiswa Unpad sekitar tahun 1988. Lokasinya masih di Kampus Dipati Ukur, Bandung.
Di sebelah kananya adalah toilet umum kampus. Orang berlalu lalu-lalang di depannya, bisa melihat siapa saja yang ada di dalamnya dan sedang apa.
Di sebelah kiri: sekretariat bersama beberapa unit kegiatan mahasiswa seperti Karate, Taekwondo, Drumband (SPDC), Kebudayaan Minangkabau (UPBM) dan lain-lain.
Sejumlah unit kegiatan mahasiswa memang mendapatkan sekretariat tersendiri. GSSTF termasuk yang beruntung, punya sektretariat sendiri.
Yang paling bagus, rasanya, ruang Menwa (resimen mahasiswa): rapi, bersih dan ada televisi. Dulu ada yang menyebut menwa sebagai “tentara kampus”. Yang paling besar ruangan Lises (Lingkung Seni Sunda). Juga ada unit pecinta alam, Palawa, ESU (English Speaking Union), Pramuka…
Di depan GSSTF adalah bangunan toko Koperasi Pegawai Unpad — berbeda dengan Koperasi Mahasiswa (Kopma) yang mengelola kantin dan toko di sebelah Gedung Perpustakaan.
Koperasi Pegawai buka sampai jam 2 atau 3 siang. Setelahnya, saat sore atau malam, teras koperasi ini dijadikan tempat latihan kalau ada pementasan. Cukup ideal karena luasnya seukuran panggung pertunjukan, kira kira 5 x 7 meter. Sutradara pementasan memberi arahan sambil duduk di seberang jalanan besar dalam kampus yang disebut “Pantai Sastra”.
Kalau suara pemain terdengar kurang jelas sang sutradara akan teriak, “Vokal,vokal!”. Suara yang tak terdengar jelas di jalan seberang Pantai Sastra pertanda kekuatan vokalnya belum memenuhi syarat untuk manggung.
Usai latihan, yang hampir selalu sampai malam, mahasiswa perempuan yang tidak bawa kendaraan biasanya diantar pulang. Dengan motor atau angkutan umum.
Di luar itu, GSSTF adalah ruang orbolan yang menawarkan keakraban. Banyak senior suka baca. Kadang ke sanggar sambil membawa buku: filsafat, sastra, puisi, pemikiran, biografi, politik, macam-macam. Nama-nama dan istilah besar bersliweran dalam obrolan. Kami-kami yang muda jadi pendengar. Rasanya asyik dan necis, meskipun tidak paham.
Keriangan dalam perbincangan yang asyik kerap mengalahkan suasana ruang kelas.
Mungkin karena itu beberapa di antaranya datang kampus bukan untuk kuliah tapi ngobrol. Sejam-dua jam atau lebih di kantin Kopma. Sedikit pesan makanannya. Berjam-jam nongkrongnya.
Ada yang “kreatif”: ke kantin berbekal kopi dan gula dalam tabung bekas bungkus rol film. Minta segelas air panas. Sewadah tabung rol film gula-kopi adalah takaran yang pas untuk segelas kopi.
Satu ketika seseorang membawa kompor listrik ke sanggar, dayanya 750 watt. Dengan kompor itu ngopi-ngopi bisa dilakukan tanpa harus keluar sanggar. Juga masak mie instan. Begadangan jadi lebih sering dilakukan. Satu-dua orang lalu tidur di sanggar.
Di pojokan dalam ruang sanggar terdapat tangga ke ruang atas. Di tempat itu peralatan pementasan seperti lampu dan kain layar hitam besar disimpan. Di ruang bagian atas itu juga beberapa orang biasa tidur.
Layar hitam besar adalah perangkat penting. Bila ada pementasan di Aula Unpad, dinding panggung Aula harus ditutup. Ukurannya mungkin 12 x 10 meter. Pembeliannya menggunakan dana kemahasiswaan setelah mendapat persetujuan Pembantu Rektor III (Wakil Rektor) Bidang Kemahasiswa waktu itu yang kemudian menjadi Rektor dua periode, Abdullah Himendra (alm).
Kain layar hitam ini kadang dipinjam kolega di luar kampus. Kami memang cukup kenal beberapa orang di sanggar lain di Bandung seperti Teater Bel di Jl. Merdeka, Stema ITB, atau sanggar IKIP (UPI). Antar sanggar itu kerap saling bantu meminjami peralatan dan saling mengundang ketika ada hajatan pementasan.
Tahun-tahun akhir 80-an sampai awal 90-an relatif banyak kegiatan. Kumpul di sanggar cukup intens. Pementasan tentu ada dalam agenda. Diskusi-diskusi kerap berlangsung dengan mengundang tokoh dari luar: puisi, novel, film, musik, politik. Juga ajakan demontrasi, baik dari mahasiswa sekampus atau kampus lain.
Intensitas aktivitas dan pertemuan tahun-tahun itu barangkali diam-diam mengikat pertemanan menjadi persaudaraan, menjadi semacam keluarga dengan beragam warna. Ada yang pintar, ada pendiam, ada yang kadang bikin berantakan permainan. Yang bandel tentu juga ada.
Bertahun setelahnya, ketika mendapat kabar salah seorang di antara kami roda keberuntungan nasibnya sedang di atas, tentu turut gembira. Dan ketika ada yang terjatuh, terluka dan dalam derita, turut merasa memar juga.
Dua bulan lalu dibicarakan rencana acara lewat zoom meeting. Tentu ada kerinduan dan hasrat kuat sehingga zoom meeting berlangsung 4 jam, mulai jam 7 sampai jam 11-an malam. Zoom meeting terlama yang pernah saya ikuti.
Saya mengandaikan acara itu adalah sebuah pertemuan keluarga. Masing-masing, yang memungkinkan, diharap menyiapkan menu untuk dinikmati bersama di ruang keluarga pada saatnya nanti.
“Aku mau menari,” kata Miranda Risang Ayu malam itu. “Tapi harus ada yang mengiringi baca puisi,” dia memberi catatan dan permintaan.
“Siiipp!!” jawab yang lain. Tiga hari kemudian Kartawi sudah mencipta puisi untuk Miranda yang memang penari.
“Saya mau monolog pendek asal ada yang jadi sutradara,” kata Guspika. Budi Godot kemudian rame-rame didapuk untuk bersedia menyutradai. Yang lain juga sudah menyiapkan untuk baca puisi, esai, cerpen, musik dan lain-lain.
Tentu saya merencanakan turut datang dalam acara yang juga boleh dihadiri siapa saja ini. Menikmati beragam sajian, juga ketemu dengan “ponakan-ponakan” yang belum saya kenal, anak-anak GSSTF masa kini, yang seumuran dengan anak-anak saya.
Jadwalnya sudah ditentukan: Sabtu, 13 Mei 2023 di Teras Sunda Cibiru, Bandung.
Mariii….
* * *
